1954 – Ide Awal PII
Dalam Konferensinya di Bogor, PII (Persatuan Insinyur Indonesia) mencuatkan keinginan untuk mendirikan sebuah perguruan tinggi teknik di Surabaya. Keinginan ini mendorong perguruan-perguruan tinggi teknik di Bandung dan Yogyakarta melakukan konsolidasi. Sejalan dengan itu, kira-kira 60 insinyur -anggota PII cabang Jatim- juga berinisiatif mendirikan Akademi Pendidikan Teknik di Surabaya.

1957 – ITS Swasta 2 Jurusan[Mesin ITS: Lahir]
Saat PII Cabang Jawa Timur mengadakan lustrum pertama, kembali gagasan PT di Surabaya dilontarkan. Sebagai hasilnya, dr. Angka Nitisastro, seorang dokter umum, bersama dengan insinyur-insinyur PII cabang Jawa Timur memutuskan untuk mewujudkan berdirinya sebuah Yayasan Perguruan Tinggi Teknik (YPTT). Pendirian yayasan tersebut didasari alasan-alasan antara lain:

  • Pemanfaatan kekayaan alam Indonesia yang melimpah belum optimal.
  • Kebutuhan tenaga insinyur untuk melaksanakan program-program pembangunan dan industri di dalam negeri sangat tinggi (sekitar 7000 orang).
  • Jumlah insinyur di dalam negri dibanding dengan di negara maju maupun negara berkembang lainnya masih sangat sedikit.

Baru tanggal 17 Agustus 1957, secara resmi berdiri Yayasan Perguruan Tinggi Teknik (YPTT) yang diketuai oleh dr. Angka Nitisastro. Yayasan tersebut dibentuk sebagai wadah untuk memikirkan tindakan-tindakan lebih lanjut, dan untuk memperbincangkan sedalam-dalamnya segala konsekuensi yang berkaitan dengan pendirian sebuah perguruan tinggi. Semua ini dalam rangka membulatkan tekad dalam mendirikan Perguruan Tinggi Teknik di Surabaya. Tiga bulan kemudian, tepatnya 10 Nopember 1957, YPTT berhasil mendirikan Perguruan Tinggi Teknik 10 Nopember Surabaya yang diresmikan oleh presiden Ir. Soekarno. Saat itu perguruan tinggi ini hanya memiliki dua jurusan yaitu: (1) Jurusan Teknik Sipil, dan (2) Jurusan Teknik Mesin.

1960-1961 – ITS Negeri 5 Jurusan
Setelah beberapa tahun dirintis oleh tokoh-tokoh dari YPTT, Perguruan Tinggi Teknik 10 Nopember Surabaya ini di-negeri-kan menjadi Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, no. 9336/UU, 3 Nopember 1960). Nama ini kemudian diubah menjadi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) (SK Menteri P & K, no. 101250/UU, 3 Desember 1960). Selain ditetapkan bahwa ITS secara formal sebagai perguruan tinggi (SK Menteri no. 72 th. 1961), juga ditetapkan bahwa Dies Natalis ITS jatuh pada tanggal 10 Nopember (peraturan pemerintah No. 9, 1961, per 23 Maret 1961). Setelah keputusan itu, ITS berkembang dari dua menjadi lima jurusan, yaitu Jurusan:

  1. Teknik Sipil,
  2. Teknik Elektro,
  3. Teknik Mesin,
  4. Teknik Perkapalan, dan
  5. Teknik Kimia.

Jurusan-jurusan tersebut kemudian berubah menjadi fakultas.

1965 – ITS Terpencar
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) membuka dua fakultas baru, yaitu: (1) Fakultas Teknik Arsitektur, dan (2) Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (SK Menteri No. 72, 1965). Sejak saat itu, ITS mempunyai tujuh fakultas yang tersebar di berbagai lokasi, yaitu: (a) Jl. Simpang Dukuh 11, (b) Jl. Ketabang Kali 2F, (c) Jl. Baliwerti 119-121, dan (d) Jl. Basuki Rahmat 84, serta (e) Jl. Kalisari 84, kedua-terakhir sebagai kantor pusat ITS.

[Mesin ITS: Integrasikan Laboratorium]
Sampai tahun 1966 Fakultas Teknik Mesin bertempat di Jl. Kalisari 84. Praktikum diadakan di perusahaan-perusahaan seperti di PNKA, PN BISMA, BARATA dan lain-lain. Pada tahun 1967-1973 Fakultas Teknik Mesin ITS mendapat bantuan dari PEPELRADA berupa tempat kuliah di Jl. Baliwerti 119 – 121. Melalui anggaran DIP & DIK yang lebih teratur, perkuliahan dan praktikum dapat dilaksanakan di lingkungan ITS sendiri, meskipun dengan alat-alat yang sederhana. Laboratorium yang sudah ada, waktu itu, adalah (a) Lab. Pompa dan turbin, (b) Lab. Tekmek, (c) Metrologi, dan (d) Ruang Gambar.

1972
Fakultas Teknik Sipil pindah ke Jl. Manyar 8, sehingga ITS semakin terpencar. Kemudian pada akhir 1975, Fakultas Teknik Arsitektur pindah ke kampus baru di Jl. Cokroaminoto 12A. Demikian pula pada tahun 1973 kantor pusat ITS pindah ke alamat yang sama. Pada tahun yang sama disusunlah rencana induk pengembangan jangka panjang (20 tahun) sebagai pedoman pengembangan ITS selanjutnya. Rencana Induk Pengembangan ITS ini menarik perhatian Asian Development Bank (ADB) yang kemudian menawarkan dana pinjaman sebesar US $ 25 juta untuk pengembangan empat fakultas, yaitu: Fakultas Teknik Sipil, Fakultas Teknik Mesin, Fakultas Teknik Elektro, dan Fakultas Teknik Kimia.

[Mesin ITS: ADB untuk Laboratorium]
Pada tahun 1973 hingga 1981, dengan bantuan Asian Development Bank (ADB), Fakultas Teknik Mesin ITS dikembangkan, yang meliputi pembangunan gedung, laboratorium dan peralatannya.

1977 – ITS Sukolilo
Dana ADB tersebut sebagian digunakan untuk membangun Kampus ITS Sukolilo Tahap I (khusus bagi empat fakultas di depan). Kampus ini sebagian diselesai pada tahun 1981, dan diresmikan penggunaannya pada 27 Maret 1982. 1978-1986. ITS juga memperoleh dana hibah dari Pemerintah Jerman/GTZ untuk pengembangan Fakultas Teknik Perkapalan.

1983 – ITS 5 Fakultas
ITS mengalami perubahan struktur organisasi menjadi hanya 5 fakultas saja, yaitu Fakultas:

  1. Teknik Industri,
  2. Teknik Perkapalan,
  3. Teknik Sipil dan Perencanaan,
  4. Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, dan
  5. Fakultas Non Gelar Teknologi (Program-Program Non Gelar).

Perubahan ini diberlakukan bagi seluruh universitas atau institut (Peraturan Pemerintah No. 5 th.1980, Peraturan Pemerintah No. 27 th.1981, dan Keputusan Presiden No. 58 th.1982).

[Mesin ITS: Melebur ke FTI & Bantuan Studi Lanjut]
Pada tahun 1983, Fakultas Teknik Mesin dilebur ke dalam Fakultas Teknologi Industri (FTI) dan berubah menjadi Jurusan Teknik Mesin. Melalui bantuan yang ada, pada tahun 1984, staf pengajar Jurusan Teknik Mesin mendapat kesempatan untuk mencapai gelar akademik yang lebih tinggi di luar negeri.

1984-1985 – ITS Laboratorium
Melalui Peningkatan Anggaran Pendidikan, bantuan ADB, serta bantuan dan kerjasama UECF-Jepang, perkembangan ITS lebih terasa. Peralatan laboratorium menjadi semakin lengkap, dan staf pengajar ITS berkesempatan untuk studi lanjut.

[Mesin ITS: melahirkan Jurusan Teknik Industri]
Seiring dengan perkembangan keragaman kurikulum, pada tahun 1985, Jurusan Teknik Mesin menyelenggarakan Program Studi Teknik Industri yang akhirnya menjadi Jurusan Teknik Industri. Jurusan ini merupakan pengembangan dari Manajemen Industri.

1991 – ITS 4 Fakultas
Perubahan terjadi lagi pada struktur organisasi ITS. Jumlah fakultas berubah menjadi 4, yaitu Fakultas:

  1. Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA),
  2. Fakultas Teknologi Industri (FTI),
  3. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), dan
  4. Fakultas Teknologi Kelautan (FTK).

Sedangkan jurusan-jurusan yang ada di Fakultas Non Gelar Teknologi diintegrasikan ke fakultas-fakultas sejenis di FTI dan FTSP. Selain itu, organisasi ITS juga bertambah oleh 2 politeknik, yaitu: Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS), dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).

1994-2000 – ITS Kelautan
Kembali ITS memperoleh dana pinjaman ADB sebesar US $ 47 juta untuk pengembangan semua fakultas dengan fokus pada teknologi kelautan. Program ini selesai pada April 2000.

[Mesin ITS: melahirkan Jurusan Teknik Material]
Pada tahun 1999, berdiri program studi baru, Program Studi Teknik Material, yang merupakan pecahan dari Bidang Studi Metalurgi. Progra ini akhirnya menjadi Jurusan Teknik Material.

2001 – ITS 5 Fakultas
ITS kembali membentuk fakultas baru, yaitu Fakultas Teknologi Informasi (FTIF) dengan 2 jurusan/program studi: Jurusan Teknik Informatika, dan Program Studi Sistem Informasi (SK Rektor, 14 Juni 2001).

[Mesin ITS: Komposisi Jurusan Teknik Mesin]
Sampai saat ini, Jurusan Teknik Mesin FTI-ITS melingkupi Program: S1 Reguler, S1 Ekstension, Pasca Sarjana S2, Program Studi D3. Sedangkan bidang studi S1 Teknik Mesin meliputi: (a) Konversi Energi, (b) Teknik Produksi, (c) Desain, dan (d) Metalurgi.

 

Heads of Department

1960 – 1963
Dekan: Ir. Moelyani

1963 – 1965 – ITS Terpencar
Dekan: Ir. R.A.M. Husni
Pembantu Dekan I: Ir. M.N. Saleh
Pembantu Dekan II: Ir. Soekiman
Pembantu Dekan III: Ir. Soerojo

1965 – 1967
Dekan: Ir. Djoko Sutiarjo
Pembantu Dekan I: Ir. M.N. Saleh
Pembantu Dekan II: Ir. Soekiman
Pembantu Dekan III: Ir. Soerojo

1967 – 1969
Dekan: Ir. Soetion Ardjanggi
Pembantu Dekan I: Dipl.Ing. Hariono S
Pembantu Dekan II: Ir. Oei Giok Bing
Pembantu Dekan III: Ir. M.N. Saleh

1969 – 1973
Dekan: Dipl.Ing. Hariono S
Pembantu Dekan I: Dipl.Ing. S. Wijaya
Pembantu Dekan II: Ir. R. Djati Nursuhud
Pembantu Dekan III: Ir. Djajadi Rachmad

1973 – 1977
Dekan: Dipl.Ing. Hariono S
Pembantu Dekan I: Ir. R. Djati Nursuhud
Pembantu Dekan II: Ir. Moch. Bachrie
Pembantu Dekan III: Ir. I Made A. Djoni

1977 – 1979 – ITS Sukolilo
Dekan: Ir. R. Djati Nursuhud
Pembantu Dekan I: Ir. Musaikan
Pembantu Dekan II: Ir. Soewandi
Pembantu Dekan III: Hardjono, MSc

1979 – 1985
Dekan: Ir. Moch. Bachrie
Pembantu Dekan I: Ir. A.Aziz Bajabir, BE
Pembantu Dekan II: Ir. Wahid Suherman
Pembantu Dekan III: Hardjono, MSc

1985 – 1987 – ITS Lab.
Ketua Jurusan: Ir. I.M.A. Djoni, MSc
Sekretaris Jurusan: Ir. Sritomo W., MSc

1987 – 1990
Ketua Jurusan: Ir. I.M.A. Djoni, MSc
Sekretaris Jurusan: Ir. Sritomo W., MSc

1990 – 1993 – ITS 4 Fak.
Ketua Jurusan: Ir. A.Aziz Badjabir, BE
Sekretaris Jurusan: Ir. Yunarko Triwinarno

1993 – 1996 – ITS Kelautan
Ketua Jurusan: Dr.Ir. Djatmiko Icsani, MSc
Sekretaris Jurusan: Ir. Yunarko Triwinarno

1996 – 1999
Ketua Jurusan: Dr.Ir. Triyogi Yuwono, DEA
Sekretaris Jurusan: Dr.Ir. Sulistiyono, DEA

1999 – 2003 – ITS 5 Fak.
Ketua Jurusan: Dr.Ir. Triyogi Yuwono, DEA
Sekretaris Jurusan: Ir. Sudjud Darsopuspito, MT

2003 – 2007
Ketua Jurusan: Dr.Ing. Herman Sasongko
Sekretaris Jurusan: Ir. Sudjud Darsopuspito, MT

2007 – 2011
Ketua Jurusan: Dr.Ing. Herman Sasongko
Sekretaris Jurusan I: Dr. Ir. Sutardi, M.Eng
Sekretaris Jurusan II: Ir. Witantyo, MengSc

2011 – 2015
Ketua Jurusan: Ir. Bambang Pramujati, MSc. PhD
Sekretaris Jurusan I: Dr. Wawan Aries Widodo, ST. MT
Sekretaris Jurusan II: Dr. Ir. Agus Sigit Pramono, DEA

=============================================================================================

        Institut Teknologi Sepuluh Nopember – Surabaya (ITS) adalah merupakan Perguruan Tinggi Teknik tertua di Indonesia Timur, yang berada di Jawa Timur. Sejak didirikan pada tahun 1957, ITS dibangun sebagai institusi yang mengabdikan dirinya pada perkembangan dan penyebaran berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi. Fakultas Teknik Mesin bersama dengan Fakultas Teknik Sipil  didirikan sebagai Program Studi dasar pertama di ITS. Karena itu, Teknik Mesin merupakan salah satu dari dua Program Studi tertua di ITS.     Selama ini Teknik Mesin ITS dikenal sebagai program studi yang  dinamis dan fleksibel dalam mengikuti setiap perkembangan di kancah nasional. Teknik Mesin berkembang dari Fakultas yang terdiri dari 1 program studi dengan 1 bidang studi pada tahun (1957 – 1973) kemudian menjadi Fakultas yang terdiri dari 1 program studi dengan 2 bidang studi  (bidang studi konstruksi dan produksi) pada tahun (1973 – 1982). Mulai tahun 1982 nama Fakultas Teknik Mesin  berganti menjadi Jurusan Teknik Mesin, yang bersama Jurusan Teknik Elektro, Jurusan Teknik Kimia dan Jurusan Teknik Fisika kemudian berada di bawah Fakultas Teknologi Industri (FTI).

        Jurusan Teknik Industri dan Jurusan Teknik Material adalah 2 Jurusan baru di bawah FTI yang dilahirkan oleh Jurusan Teknik Mesin. Program studi S1 Teknik Mesin sejak 1984 mengelola 4 bidang studi yang semuanya mencerminkan keterkaitannya yang sangat erat dengan penerapan ilmu mekanika dalam aplikasi keteknikan, yaitu : (1) Desain, (2) Konversi Energi, (3) Teknik Produksi dan (4) Metalurgi. Guna memberikan refleksi yang lebih jelas terhadap kompetensi lulusan yang dikehendaki, nama-nama bidang studi ini sejak tahun 2004 kemudian berubah menjadi : (1) Desain Sistem Mekanikal, (2) Konversi Energi, (3) Teknik Manufaktur dan (4) Metalurgi. Program Studi S2 yang lahir pada tahun 1993, pada awalnya mengelola 2 Bidang Keahlian, yaitu: (1) Teknologi Energi dan (2) Rekayasa Perancangan & Manufaktur. Selain karena tuntutan permintaan pasar lulusan, dan juga karena didorong oleh ketersediaan sumber daya pengajar dengan kompetensi yang lebih spesifik, maka sejak tahun 2004 Program Studi S2 merubah Bidang Keahlian yang dikelolanya menjadi: (1) Rekayasa Konversi Energi, (2) Desain Sistem Mekanikal dan (3) Sistem Manufaktur.

        Selain Program Studi S1 dan S2, Jurusan Teknik Mesin juga mengelola Program Studi D3. Program Studi yang berada di bawah Jurusan Teknik Mesin sejak tahun 1993 ini pada awalnya mengelola 2 bidang studi, yaitu: (1) Konversi Energi dan (2) Manufaktur. Program Studi D3 ini sebelum tahun 1993 berada di bawah Fakultas Non Gelar Teknologi (FNGT). Sejak tahun 2004, guna memberikan refleksi yang lebih jelas terhadap kompetensi lulusan yang dikehendaki, nama-nama bidang studi yang dikelola Program Studi D3 berubah menjadi : (1) Perawatan Mesin Konversi Energi dan (2) Teknik Produksi.

        Selama 50 tahun berdiri, Jurusan Teknik Mesin ITS telah mengalami beberapa program pengembangan yang sangat mempengaruhi kualitas penyelenggaraan pendidikan yang dikelolanya. Pada pertengahan tahun 1970, ITS menerima bantuan dari The Asian Development Bank (ADB). Bantuan ADB ini memberi kesempatan pada ITS  mengirimkan staf pengajar ke luar negeri untuk menempuh program pendidikan S2 dan S3. Selain itu, bantuan ADB mengijinkan ITS untuk mengembangkan dan memperbaiki fasilitas fisik, seperti ruang kelas, laboratorium, perpustakaan dan lain-lain. Selama proyek ADB, Jurusan Teknik Mesin berhasil memanfaatkan bantuan dana itu untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas staf akademik, mengembangkan fasilitas laboratorium dan perpustakaan serta memperbaiki kurikulum dengan menggunakan referensi kurikulum pada perguruan tinggi teknik di Amerika Serikat. Dengan proyek pengembangan ini kualitas dan kuantitas lulusan meningkat secara signifikan.

        Pada awal tahun 1985 beberapa jurusan di ITS, termasuk Jurusan Teknik Mesin dipercaya untuk melaksanakan “crash program” atau P3I (program percepatan pendidikan insinyur), yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Di satu sisi, pelaksanaan P3I mencerminkan usaha pengembangan produktifitas di Jurusan Teknik Mesin, namun di sisi lain, Jurusan Teknik Mesin harus menerima jumlah mahasiswa baru dua kali lipat dari kapasitas normalnya, hingga mencapai lebih dari 200 orang. Besarnya jumlah mahasiswa baru yang dapat diterima telah menurunkan kualitas masukan (dengan rata-rata nilai UMPTN yang lebih rendah) Lagi pula, program P3I tidak memberikan investasi yang memadai untuk memperbaiki fasilitas ruang kelas, peralatan laboratorium dan koleksi perpustakaan (textbook, jurnal dan lain-lain). Angka perbandingan jumlah mahasiswa dan dosen yang tinggi, ditambah kurang memadainya sarana pendukung pembelajaran untuk melayani jumlah mahasiswa yang begitu besar mengakibatkan target kualitas yang ingin dicapai dengan program P3I tidak dapat dipenuhi secara memuaskan.

        Pada dekade terakhir, Program Studi S1 dan Program Studi S2 Jurusan Teknik Mesin ITS menjadi salah satu diantara beberapa program studi di Indonesia yang mendapat penghargaan tinggi. Pada tahun 1998 Program Studi S1 Jurusan Teknik Mesin ITS mendapatkan Akreditasi A+, sedangkan pada tahun 2004 Program Studi S2 mendapatkan Akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional. Karena reputasi akademik dan keandalan sistem manajemen pendidikan yang dimilikinya, pada tahun 1999 Program Studi S1 Jurusan Teknik Mesin ITS menerima Block Grant yaitu Quality for Undergraduate Education (QUE) batch II untuk periode 5 tahun (1999 – 2004). Jenis grant sangat kompetitif dan bergengsi ini mengucurkan dana lebih dari 1,2 juta USD dan 6,2 milyar IDR. Banyak perkembangan telah dilakukan sebagai implementasi dari proyek QUE. Semua aktivitas dan program proyek QUE dilakukan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran dan aktivitas penelitian melalui managemen yang lebih efektif dan efisien. Jurusan Teknik Mesin FTI – ITS  dalam 5 tahun terakhir itu telah mengimplementasikan program-program pengembangan yang bertujuan meningkatkan relevansi, baik dari lulusan, kurikulum, fasilitas pendukung maupun produk penelitian. Atas evaluasi yang obyektif dari Badan Akreditasi Nasional, maka pada tahun 2005 Program Studi S1 Jurusan Teknik Mesin kembali mendapatkan Akreditasi A.

         Semua pengembangan dan catatan prestasi yang diuraikan di atas, merupakan modal bagi Jurusan Teknik Mesin ITS untuk mulai melibatkan diri dalam forum internasional. Ini membutuhkan komitmen yang solid dan partisipasi aktif dari civitas academica dalam menjalankan program pengembangan berkelanjutan. Berkaitan dengan hal itu, maka adalah penting untuk merumuskan kembali visi dan misi yang dimiliki, untuk dapat mencapai tujuan dan sasaran yang diharapkan. Selaras dengan Visi , Misi, serta Sasaran dan Tujuan yang menjadi landasan program kerja dan program pengembangan Fakultas Teknologi Industri (FTI) maupun Renstra ITS, Jurusan Teknik Mesin mendasari program kerja dan program pengembangannya ke depan dengan Visi, Misi serta Sasaran dan Tujuan yang telah dirumuskan sebagai berikut :

Visi :
Menjadi Institusi Pendidikan Tinggi Teknik Mesin dengan reputasi internasional, yang sangat berperan sebagai institusi rujukan program studi Teknik Mesin di Indonesia.

Misi :
Menyelenggarakan program Pendidikan Tinggi Teknik Mesin untuk menghasilkan lulusan yang mampu bersaing di pasar global, melaksanakan penelitian dan mempublikasikan hasil penelitian bidang keilmuan Teknik Mesin yang berkualitas dalam forum nasional, regional maupun internasional, serta menerapkan hasil penelitian untuk membantu memecahkan masalah industri dan masyarakat.

Sasaran dan Tujuan :

  1. Menjadikan sistem pendidikan dan pengajaran pada Jurusan Teknik Mesin FTI – ITS agar setara dengan standard internasional.
  2. Menyediakan lulusan yang memiliki ilmu pengetahuan, keahlian dan kemampuan praktis sehingga mempunyai kompetensi untuk mampu bersaing dalam pasar global, serta memiliki moral dan etika yang baik.
  3. Memiliki hasil penelitian yang berkualitas untuk dapat dipublikasikan dan dipatenkan baik secara nasional, regional maupun internasional serta diaplikasikan secara riil untuk membantu masalah industri dan masyarakat.

        Untuk dapat mencapai sasaran dan tujuan tersebut di atas, managemen Jurusan harus mempunyai komitmen dan kemampuan untuk senantiasa melakukan evaluasi diri, merencanakan dan mensosialisasikan Program Pengembangan Jurusan yang disususun berdasarkan analisa evaluasi diri, kemudian mengimplementasikannya, dalam arti mampu memotivasi dan mendorong peran aktif civitas academica untuk secara bersama melaksanakannya. Ini telah dibuktikan, bahwa setelah selama 4 tahun ini (2004 – 2007) Jurusan Teknik Mesin ITS bisa melaksanakan Program Pengembangan secara baik dan berkelanjutan dengan dana SPI (Sumbangan Pengembangan Institusi), maka mulai September 2007 kembali Jurusan ini dipercaya mengelola dana Program Hibah Kompetisi dari Bank Dunia. “Block Grant” ini dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan managemen pendidikan guna memperbaiki relevansi lulusan maupun produk intelektual lainnya menuju standar internasional. Program “IMHERE” (Indonesia Managing Higher Education for Relevance And Efficiency) itu akan diimplementasikan hingga September 2011.

        Pada akhirnya, terutama berkaitan dengan semangat peringatan ulang tahun emas (ke 50) Teknik Mesin ITS, almamater tercinta yang telah melahirkan lebih dari 4500 putra-putri terbaiknya bagi nusa dan bangsa itu menghimbau, agar selanjutnya kerjasama antar alumni dalam rengkuhan payung kebersamaan almamater bisa terealisasi secara lebih intensif. Solidaritas dan integritas dalam semangat “mesin ueber alles” yang tumbuh dihati setiap mahasiswa Teknik Mesin ITS, tatkala masih bersama dalam kampus dulu, seharusnyalah terus tumbuh bersemi tatkala sudah terjun di masyarakat. Semangat untuk ikhlas berbagi dengan saudara kita sendiri adalah kunci terpenting untuk menyuburkan solidaritas dan integritas dalam wadah Ikatan Alumni. Ikatan kepentingan yang dilandasi oleh ikatan moral-emosional antar saudara kita, akan memberikan daya perekat dan tenaga gerak yang kuat untuk mulai melangkah secara bersama. Kebersamaan seperti itulah yang semestinya selalu dapat menghantarkan kita melangkah kedepan untuk mencapai kemajuan.